Khitanan


Sesungguhnya khitan itu adalah merupakan sunnah rasulullah,dan termasuk salah satu dari sepuluh fitrah atau sunnan para nabi.

Khitan artinya memotong kulit yang menutupi kepala penis . (lihat nailul author I/125). Adapun waktunya kata Syaukani dalam kitabnya nailul Author tidak mempunyai waktu tertentu, ia berkata : Sesungguhnya masa melakukan khitan itu tidak dibatasi dengan waktu tertentu, pendapat ini adalah pendapat Jumhur ulama , dan tidak pula diwajibkan waktu kecil.


Menurut definisi di atas, maka tidak ada penambahan tertentu dalam pelaksanaan khitan itu melebihi dari sekadar memotong kulit yang menutup kepala penis. Tidak penah ada doa khusus, atau bacaan khusus untuk khitan, begitu juga tidak ada syarat tertentu saat pelaksanaan khitan, seperti membaca dua kalimat syahadat, yang berarti dengan khitan ini anak yang dikhitan telah sah islamnya. Perbuatan seperti ini tidak ada dalilnya sama sakali, apalagi bertentangan dengan hadits yang menyatakan setiap anak yang dilahirkan, terlahir dalam keadaan fitrah (islam).

Adapun walimah atau pesta karena khitan, syaikhul islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang hukum pesta penikahan, pesta kematian, pesta khitanan, dan pesta aqiqahan.

Beliau menjawab : Pesta pernikahan adalah sunnah, dan memenuhi undangannya adalah diperintahkan, pesta kematian adalah bid'ah, haram untuk melakukan dan memenuhi undangannya, pesta khitanan adalah boleh (mubah), barangsiapa yang ingin melakukkannya silahkan dan siapa yang ingin meninggalkannya silahkan. Begitu juga dengan pesta kelahiran, kecuali kalau seandainya telah disembelih aqiqahannya, maka sesungguhnya penyembelihan itu hukumnya sunnah. Wallahu 'alam.

Beliau juga berkata pada jawaban yang lain : adapun undangan pesta khitanan, maka hal itu tidak pernah dilakukan oleh para shahabat. Hukumnya mubah, kemudian sebagian ulama pengikut imam ahmad dan lainnya ada yang mengatakan hukumnya makruh. Sebagian mereka ada yang membolehkan, dan bahkan adalah yang menganjurkannya. (lihat Majmu' Fatawa juz 32/ hal : 207).

Sebenarnya tidak ada sunnahnya melakukan pesta khitanan, sebab tidak ada dalil yang menganjurkannya, bahkan hal itu tidak pernah dikenal pada zaman nabi atau para shahabat sebagaimana atsar Utsman bin Abi Al Waqash, Al Hasan berkata : Utsman bin Abi Al Waqash pernah diundang untuk menghadiri pesta khitanan, maka beliau enggan untuk memenuhinya, lalu ditanyakan kepada beliau, lantas beliau menjawab : Sesungguhnya kami tidak pernah mendatangi pesta khitanan di zaman rasulullah dan tidak pernah pula kami diundang. (H.R. Ahmad).

Imam Syaukani berkata dalam kitabnya Nailul Author juz 6 hal 196 : Atsar ini tercantum di musnad imam Ahmad dengan sanad yang tidak ada celaan padanya, hanya saja di sanadnya terdapat Ibnu Ishaq, beliau tsiqah, akan tetapi mudallis. Athobrani juga mengeluarkan atsar yang sama di kitabnya Al Kabir dengan sanad Ahmad. Dan beliau juga mengeluarkan atsar tersebut dengan sanad lain, di dalam sanad itu terdapat Hamzah Al 'Athor. Beliau ini ditsiqohi (dikuatkan) Ibnu Abi Hatim dan selainnya melemahkannya. Dari atsar ini telah diambil kesimpulan bahwa tidak disyariatkannya memenuhi undangan pesta khitanan.

Perkataan syeikhul islam Ibnu Taimaiyah, yang mengatakan boleh atau mubah, ini berdasarkan bahwa acara itu hanya semata makan-makan dalam rangka menampakkan rasa gembira, sehingga mengundang orang lain dalam kegembiraan itu. Acara itu bukan merupakan keharusan (wajib dilakukan) setiap khitanan.

Adapun apa yang terlihat di masyarakat kita, dengan mengadakan acara –acara tertentu dalam pesta khitanan, seperti musik, diarak beramai-ramai ke ziarah kuburan keluargannya, dimandikan dll, sehingga perbuatan itu merupakan unsur yang wajib dilakukan untuk setiap kali pelaksanaan khitan, bahkan kalau tidak melakukan hal itu khitannya tidak sah, atau kurang berkah dan lain-lain. Maka perbuatan itu termasuk bid'ah yang dimungkari, dan bukan hal seperti ini yang dikatakan oleh syaikul Islam.

Adapun sembelihan binatangnya, selagi acara itu masih dalam batas yang dibolehkan, maka sembelihan itu tidak termasuk penyembelihan karena selain Allah. Sembelihan itu sama dengan sembelihan aqiqahan, atau menyembeliah karena kedatangan tamu dll. Adapun penyembelihan yang dikatagorikan sebagai menyembelih karena selain Allah adalah dalam rangkat pengagungan dan pemujaan selain Allah. Wallahu 'alam

baca selanjutnya »»

Back To Quran-Sunnah & Asholah Dakwah NOW!!..ALLOHU AKBAR!!!


baca selanjutnya »»

Kembali Kepada Idealisme Da’wah

(dikutip dari ceramah Ust.Abdul Muiz)
Mukadimah

Ta’shil Da’awi artinya (orisinilitas da’wah): Menjaga kemurnian atau keaslian da’wah. Dalam pengembangan da’wah, orisinilitas harus selalu terjaga dan terpelihara, sehingga memiliki landasan yang kuat dan kokoh untuk terus bergerak. Dan da’wah sangat terkait dengan takwin, maka ketika kita bicara pada tataran konsep, kader dan aktivis harus berpegang teguh pada idealisme da’wah. Karena seberat apapun ujian dalam da’wah, selama kader memiliki pegangan yang kuat dalam melangkah, maka idealisme da’wah akan tetap terjaga dan terpelihara. Karenanya kita harus memahami tentang Ta’shil Da’awi (orisinilitas dalam da’wah).
Keberhasilan kader dan aktifis menjaga Ta’shil Ad Da’awi akan memberikan kekuatan yang sangat penting dalam takwin (pengembangan) dan kemenangan da’wah. Karenanya kader dan aktivis perlu memperhatikan hal – hal yang prinsip dalam Ta’shil Da’awi sehingga asholah da’wah tetap menjaga.


Pertama, Ta’shil Syar’i (kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh da’wah tanpa fiquh syari’ah, karenanya ruang lingkup gerak da’wah harus berada dalam bingkai syari’at. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah. Setiap gerak para kader dan aktifis harus berada dalam frame Ahkamu syariah (hukum syariah) . Apakah hal tersebut wajib, sunnah, haram, makruh atau mubah.
Ketika berbicara tentang ta’shil syar’i, tidak bisa lepas dari fiquh Aulawiyah Syari’ah (skala prioritas dalam syari’ah), dengan sikap yang haram (tinggalkan), mubah (pilih sesuai dengan kemaslahatan), makruh (hindari), sunnah (tingkatkan). Dengan skala prioritas ini kita tidak disibukkan oleh hal yang mubah dengan meremehkan kewajiban atau melaksanakan yang sunnah tanpa melakukan kewajiban. Artinya, sikap yang tepat dalam menjalankan syariat adalah, memulai dari yang wajib. Jika wajib ain harus diutamakan baru menjalankan kewajiban yang bersifat kifayyah, baru menjalankan sunnah. Sunnah muakkadah lebih didahulukan daripada sunnah mandubah, baru melakukan yang mubah sebagai pilihan terakhir.
Gerak para kader dan aktifis harus terus berada dalam frame hukum syariah yang terikat dengan fiquh prioritas. Dalam konteks sekarang, kebiasaan menonton bola atau Film hukumnya bisa makruh karena menghabiskan waktu pada hal yang tidak berguna bahkan kita bisa terjebak pada haram. Dan dalam surat Al Mukminun Allah menggambarankan mengenai sifat orang mukmin yang mendapatkan kemenangan serta mewarisi surga Firdaus adalah salah satunya menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Ingat ikhwah fillah sibuk memperdebatkan hukum tentang celana di bawah mata kaki atau diatas mata kaki adalah pembahasan yang sia – sia dan menghabiskan waktu jika di belahan bumi lain banyak saudara – saudara kita dibantai, diblokade, dan terdholimi oleh musuh – musuh islam.
Kedua, Ta’shil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktifis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktifis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Qur’an dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas. Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap manhaj berpikir sesuai Al Qur’an dan Sunnah, Imam Hasan Al Banna telah memudahkan kita dengan formulasi Ushul Isrin. Para kader dan aktifis da’wah harus Istis’ab dan memiliki pendalaman tentang ushul isrin. Karena semua permasalahan yang kita hadapi dalam berbagai bidang kehidupan, solusinya ada dalam Ushul Isrin.
Ikhwah fillah. Ushul isrin harus dikaji secara mendalam dan komperhensif lalu sebagai kader dan aktifis kita berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Karena dengan kaidah – kaidah yang terangkum dalam dua puluh prinsip (intisari dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul) adalah salah satu ijtihad abad yang ke-20 yang dilakukan oleh Imam Hasan Al Banna yang tidak dilakukan oleh ulama terdahulu. Di dalamnya terkait dengan berbagai macam permasalahan kehidupan termasuk mengenai jama’ah, khilafiyah, pemikiran dan lainnya. Artinya kalau kita ingin menjaga konsep da’wah ini, maka semuanya telah terangkum dalam ushul isrin. Bahkan seluruh tulisan atau karya ilmiah yang ditulis oleh para qiyadah da’wah atau masyakhi da’wah, semuanya mengambil rujukan dari ushul isrin. Kita dapat membaca buku yang ditulis oleh syeh Musthofa Masyhur semua rujukannya adalah ushul isrin. Dan ketika Yusuf Qardhawi menulis dalam konsep berpikir manhaj, rujukannya adalah ushul isrin. Jadi, bukan sekedar mengetahui 20 prinsip, tapi yang lebih penting bagaimana kita harus memahami dan mengaktualisasikan dalam kehidupan kita sehari – hari. Masalah ini dapat diatasi dengan Ta’shil Al Fikri (internalisasi tentang fikroh).
Ketiga, Ta’shil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang da’wah adalah gerak aktifitas atau kerja. Bukan wacana apalagi gosip. Da’wah adalah haroki—bekerja aktif. Maka tidak asholah dan tidak murni lagi (palsu) kalau masih ada kader da’wah dan aktifis yang tidak aktif. Tidak Asholah lagi jika hanya pandai berwacana tapi tida ada kontribusi atau pastisipasi dalam da’wah. Karena orisinilitas da’wah di antaranya ta’shil haroki (bergerak dan terus bekerja), bukan banyak debat atau diskusi tapi tanpa berbuat dan berkarya untuk da’wah. Yang harus selalu menjadi pertanya para kader dan aktifis adalah, “Apa kontribusi saya dalam da’wah?” Bukti kalau kader dan aktifis masih asholah dalam da’wah adalah memiliki peran atau kontribusi aktif serta terlibat penuh dalam partisipasi aktif. Jadi, kalau masih ada kader yang tidak terlibat, tidak aktif maka ta’shil harokinya tidak berjalan dengan baik.
Ikhwah fillah… da’wah adalah haroki. Hal ini terbukti dalam sejarah kehidupan nabi dan para sahabatnya. Rasulullah saw selama di Madinah bersama para sahabat melakukan peperangan selama 100x. Di Madinah 10 tahun. Mulai perang tahun ke-2. Seratus kali antara yang dipimpin oleh Rasul dan dipimpin oleh sabahabat, antara yang terjadi perang dan yang tidak terjadi perang, dan antara perang yang besar dan yang kecil. Hal ini menunjukkan adanya mobilitas yang luar biasa, dan tanpa ada kesempatan untuk istirahat, bersantai – santai bagi kader da’wah. Untuk kondisi kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan untuk nonton bola, nonton Film, berdebat mengenai hal yang remeh, dan berpikir yang “aneh – aneh” tapi semuanya dalam kondisi siaga penuh dalam menjalankan tugas da’wah.
Ikhwah fillah. Kalau kita perhatikan dengan baik bahasa – bahasa Al Qur’an, sebetulnya tidak mengenal istilah uzur. Dalam da’wah ini berangkat ke medan perang dalam keadaan ringan, berat, susah, atau mudah. Semua mukmin harus berangkat semua, sehingga ketika ada sebagian sahabat yang uzur (berhalangan) dalam arti tidak dapat memenuhi panggilan da’wah karena tidak punya dana, kendaraan, sarana, atau fasilitas, mereka tidak kemudian santai mengatakan Alhamdulillah. Hal ini berbeda dengan kondisi sebagian kader dan aktifis kita yang malah bersyukur, dan mengucapkan Al hamdulillah ketika mendengar liqo diliburkan. Para sahabat yang tidak dapat andil dalam perjuangan (tidak hadir), dan tidak punya kontribusi mengalami kesedihan yang luar biasa meski secara hukum syar’i tidak ada beban dosa. Tapi secara moral (psikologi) sebagai kader da’wah (aktifis da’wah), ketika tidak terlibat atau tidak berkontribusi tetap ada beban moral walau tidak berdosa. Karenanya pada prinsipnya keterlibatan dalam da’wah adalah pastisipasi aktif dan terlibat secara nyata dan punya kontribusi terus sehingga mereka bersedih “ولاعلىلذين اذامااتوك لتحملهم قلت لا اجد ما احملكم عليه “Dan tiada pula berdosa orang – orang yang datang kepadamu, supaya engkau bawa mereka (pergi berperang), lalu engkau berkata kepadanya: Aku tiada memperoleh belanja untuk membawa kamu” Beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah meminta untuk difasilitasi untuk diangkut, diberi kendaraan untuk pergi ke medan perang, tapi kata Rasul mengatakan, “Saya tidak bisa lagi menfasilitasi kalian karena sudah sangat terbatas. Sudah tidak ada lagi dana, kendaraan, atau fasilitas. Kalian tinggal saja di rumah kalian, karena kalian tidak ada uzur (dosa) bagi kalian.” Dan ketika Rasulullah mengatakan hal tersebut, air mata mereka mengalir sedih. تولوا واعينهم تفيض من الدمع حزنا الا يجدوا ما ينفقون mengapa demikian? Karena mereka tidak bisa bergabung atau tidak berkontribusi. Adalah kerugian yang sangat besar ketika kita sebagai kader da’wah kemudian kita tidak punya kontribusi, tidak terlibat secara aktif. Karena orang lain mendapatkan pahala, atau kesempatan untuk bersejajar dengan para nabi, masuk surga, kemudian kita tertinggal. Ini yang harus dipahami betul oleh para kader dan aktifis. Bahwa kita harus bergerak atau sibuk untuk bekerja urusan – urusan da’wah.
Sebagai contoh, Abu Dzar Al Ghifari secara moral ada beban moral ketika tidak hadir, tidak berangkat, tidak terlibat, dan tidak punya peran walau dalam keadaan uzur. Karena ketika sudah mengikrarkan diri sebagai kader da’wah, maka harus berangkat. Artinya ketika sudah menyatakan diri sebagai kader da’wah, maka harus berangkat atau terlibat dalam setiap aktifitas da’wah. Selama ada modal iman, ada modal motivasi, akal sehat, pikiran sehat, harus berangkat walaupun harus jalan kaki 700 meter dari Madinah ke Syam. Abu Dzar Al Ghifari berjalan sendirian, di bawah panas terik matahari. Kenapa? Karena beliau memahami betul, bahwa sebagai aktifis da’wah dituntut untuk memberikan loyalitas keterlibatan aktif dalam perjuangan.
Ta’shil Haroki (kemurnian dalam berharaki), kader dan aktifis harus terus bergerak aktif dan produktif. Apalagi kita dituntut untuk lebih cepat atau agresif untuk kemenangan da’wah. Tidak mungkin kita akan meraih 20% menjadi 3 besar, kalau kita sendiri masih berat untuk melangkah. Untuk melangkah cepat saja belum tentu bisa memenangkan da’wah apalagi lambat. Kader da’wah harus melompat cepat dan agresif untuk melakukan ekspansi jika memiliki cita – cita mulia yaitu memenangkan da’wah..
Ikhwah fillah. Ingatlah baik – baik pesan Imam Hasan Al Banna. Beliau mengatakan, “Tidak layak untuk da’wah ini kecuali orang yang siap membela da’wah dengan segala potensi yang ia miliki.” Artinya sebagai kader dan aktifis kita harus siap berkorban dengan waktu, tenaga, pikiran, harta benda, istirahat, darah, nyawa, dan lainnya. Karena da’wah adalah darah daging bagi kader – kader da’wah yang layak mendapat kemenangan dari Allah. Karenanya keterlibatan dalam da’wah adalah kerja. Apalagi ketika kita di hadapkan pada banyak fitnah, banyak godaan, cobaan, huru hara, dan gelap gulita. Kita hidup dalam kondisi zaman yang rusak, yang bisa jadi bertambah kerusakannya jika eksistensi da’wah terancam karena sikap pasif para kader dan aktifis. Banyaknya fitnah, huru hara dan kegelapan bisa menjadikan seseorang pagi hari dalam keadaan mukmin sore hari ia menjadi kafir, sore masih mukmin pagi hari menjadi kafir. Apa yang Rasulullah gambarkan kini benar – benar mulai menunjukkan gejala atau indikasi kerusakan yang hebat, dimana kita menghadapi kekacauan yang luar biasa. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan oleh kader – kader terbaik da’wah untuk mengantisipasi hal ini? Tidak ada pilihan untuk menghindari hal tersebut agar selamat kecuali dengan amal. Segera berbuat atau beramal sebelum datangkan kekacauan yang luar biasa dan lebih besar lagi. Karena saat itu umat akan sulit untuk membedakan yang hak dan yang batil.
žw Rasulullah menjelaskan bahwa beramal di saat – saat terjadinya kekacauan, banyak cobaan, ujian, nilainya sama dengan amal 50 orang sahabat. Ketika sahabat bertanya, “lima puluh orang kami atau puluh orang mereka?” puluh orang kalian” jawab Nabi. Yang akan menyelamatkan kita adalah amal. Walaupun kita tidak pernah bertemu dengan Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Bila kita memiliki kesempatan untuk beramal yang mendekatkan kedudukan kita dengan mereka. Ta’shil da’awi adalah ta’shil haroki. Itulah yang dapat meloloskan kita dari fitnah besar yang akan menimpa umat.
Ikhwah Fillah,
Haroki harus terorganisir karena da’wah akan produktif dan haroki dapat berjalan efektif jika ia bergerak dalam struktur. Para kader dan aktivis harus menghindari melakukan amal – amal yang liar. Amalnya bagus, baik, tapi liar karena tidak masuk dalam struktur organisasi, dan amal ini tidak banyak manfaatnya karena program – program yang sifatnya liar. Dan kita sering kali bersikap melakukan pembenaran terhadap amal – amal liar dengan beragumen, “Ini kan da’wah juga…,” sebagai kader da’wah kita harus ingat, cara – cara yang liar hanya berdampak sekejap dan berbahaya bagi da’wah. Padahal yang kita inginkan adalah da’wah yang terstruktur dan teorganisir dalam bingkai kebijakan umum atau strategi umum. Bukan hanya sekedar bergerak liar di luar struktur. Tapi yang teratur, dan tertib dalam aturan yang dibuat oleh system. Kalau sekedar bergerak, maka akan lebih banyak mudharotnya bagi da’wah.
Ikhwah fillah…. ilustrasi amal liar yang berada di luar struktur diibaratkan dengan Air. Air kalau tidak mengalir ke kanal – kanal yang telah dipersiapkan, ia akan merusak jalanan. Aspal berlubang, lalu akan menimbulkan kemacetan akibat banjir bahkan dapat menjebolkan tambul. Begitu juga ketika kita berharokah yang tidak terorganisir, tidak tertib. Cenderung hal ini akan merusak. Seperti aliran air yang tidak mengalir pada kanalnya. Karena itu, gerak yang kita lakukan harus mengacu pada konsep tarbiyah. Artinya jangan karena kita aktif lalu lupa pada tarbiyah Ada sebagian ikhwah kita yang aktif di berbagai lembaga, instansi non pemerintah seperti Ormas, LSM, Yayasan dan organisasi lainnya, tapi dia lupa mentarbiyah dirinya sendiri. Padahal amal haroki baru akan banyak faedah manakala berangkat dari tarbiyah. Karena dengan tarbiyah kita selalu diingatkan tentang keikhlasan, kesabaran, istiqomah agar hati tetap terjaga.
Yang sangat disayangkan, sebagian ikhwah kita yang aktif luar biasa terkadang tidak mencerminkan harokah. Artinya mengajak orang melakukan perubahan, berbuat baik, sementara perilaku hidupnya jauh dari nilai - nilai yang dia emban. Yakni bertolak belakang dengan apa yang disampaikan kepada masyarakat. Dia membicarakan tentang tarbiyah, sementara dia sendiri tidak tertarbiyah dengan baik. Mengajak kepada da’wah tapi lalai untuk mengimplementasikan nilai da’wah dalam kepribadiannya sebagai kader da’wah. Karena itu haroki harus ada dalam kendali tarbiyah.
Ikhwah fillah, ingatkan bagaimana dialog sahabat Anshor dengan Rasulullah, “Ya Rasulullah, jika engkau kehendaki, kami siap dengan pedang – pedang kami untuk menghadapi kaum musyrikin saat ini juga.” Ketika rahasia pertemuan Rasulullah dengan para sahabat Anshor diketahui atau dibocorkan, maka Rasulullah mengatakan, “Lebih baik kamu pulang ke kampung kamu masing – masing menyebarkan da’wah, memperbanyak kader, memperluas da’wah dan kita belum waktunya untuk melakukan ini dan pada saatnya tiba kita akan melakukan ini.”
Ikhwah fillah… bila Ta’shil Ad Da’awi kita pahami dengan baik, Insya Allah kita akan menjadi kader dan aktifis yang terdepan untuk selalu menjaga kemurnian da’wah. Dalam kerja da’wah yang berat ini tentu sangat diperlukan pemahaman yang utuh mengenai At Ta’shil Ad Da’awi sehingga kita dapat mengembalikan umat ini kepada kemurnian da’wah yang memiliki landasan yang kuat, dan kokoh. Sebab mustahil kita akan memenangkan da’wah sementara kita tidak segera kembali kepada orisinilitas da’wah.

baca selanjutnya »»

Aktivitas Dakwah dalam Dunia Politik

Didin Hafidhuddin
Guru Besar IPB dan Ketua Umum BAZNAS


Tugas dan kewajiban dakwah (dalam pengertian luas) adalah tanggung jawab setiap Muslim kapan dan di mana pun, apa pun posisi, jabatan, profesi dan keahliannya. Ini karena dakwah adalah sebuah pekerjaan yang akan menghantarkan ketinggian dan kekuatan umat (QS Ali Imran [3]: 110).

Dakwah ini pula akan menyebabkan kebahagiaan yang hakiki, di dunia maupun di akhirat (QS Ali Imran [3]: 104). Oleh karena itu, ketika kita menjadi pejabat, birokrat, pengusaha, politisi, kita pun harus menjadi dai, demikian pula dalam bidang-bidang lainnya. Meskipun demikian karena dakwah memerlukan pemikiran yang serius, sungguh-sungguh, dan perhatian yang penuh maka dalam implementasi dan pelaksanaannya, harus dilakukan oleh kelompok-kelompok orang dan umat, yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk melakukan dakwah, baik secara lisan, tulisan, maupun juga dengan tingkah laku dan amal perbuatan.


Inilah yang difirmankan oleh Allah SWT pada QS At-Taubah [9] ayat 122, yang intinya harus ada thaifah khossoh (kelompok-kelompok khusus), yang mendalami ilmu-ilmu keislaman. Termasuk ilmu dakwah dan komunikasi untuk disampaikan kepada masyarakat.

Dakwah dan politik
Kita mengetahui bahwa politik yang dalam bahasa Arabnya as-Siyasah adalah sebuah upaya dan kegiatan yang dilakukan dengan cara-cara tertentu untuk mencapai suatu tujuan dan misi tertentu. Politik bagi kaum Muslimin merupakan suatu kebutuhan dan keniscayaan karena politik sangat berkaitan dengan semua bidang dan dimensi kehidupan.

Tanpa politik, tidak mungkin kita bisa membangun sebuah kehidupan yang baik, yang adil dan sejahtera. Hukum tidak mungkin bisa ditegakkan tanpa ada kemauan politik dari semua pihak yang terlibat di dalamnya. Ekonomi syariah pun tidak mungkin bisa dilaksanakan di negara kita tanpa ada kemauan politik dari semuastakeholders-nya.

Demikian pula anggaran pendidikan yang dicanangkan sebesar 20 persen dari APBN, itu juga tidak mungkin bisa dilaksanakan tanpa kemauan politik yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terlibat dalam menentukan kebijakan. Politik sebuah keharusan dan keniscayaan, dalam arti untuk mencapai tujuan-tujuan yang baik dan mulia.

Tetapi dalam praktiknya, dakwah dengan politik ini adalah sebuah persinggungan, yang terkadang saling mengalahkan. Ketika dakwah yang menjadi jalan dan tujuan berlandaskan nilai-nilai kebaikan, keikhlasan, kejujuran, kebersihan, serta kebersamaan dimunculkan, maka politik akan menjadi alat dan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang baik dan mulia tersebut.

Politik bukanlah menjadi tujuan, tetapi alat untuk membangun sebuah kehidupan masyarakat dan negara yang bersih, adil, jujur, dan menyejahterakan masyarakat. Politik itulah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Dengan amanah, kejujuran, serta profesionalitas yang dibangun, maka lahirlah masyarakat Madinah, yaitu masyarakat Islam yang dirasakan keindahan dan kebaikannya oleh seluruh anggota masyarakat Muslim maupun non-Muslim. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Anbiya' [21] ayat 107: ''Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.''

Dengan politik yang berlandaskan nilai-nilai tersebut di atas, keadilan hukum dan ekonomi tentu dapat ditegakkan, begitu pula keadilan-keadilan yang lainnya. Tetapi, apabila dakwah dan nilai-nilai Islam hanya dijadikan sebagai cover untuk diterima oleh masyarakat, sementara para politisinya bermain dengan cara-cara yang tidak baik dan kotor, tidak amanah, tidak jujur, tidak bersih, serta menghalalkan segala cara, menjadikan materi sebagai alat untuk mencapai dan mendapatkan kekuasaan maka politik akan mengalahkan dakwah.

Politik dan dakwah tidak mungkin bisa disatukan dalam kondisi yang demikian. Dakwah bertujuan memperbaiki masyarakat dari kondisi yang kurang baik menjadi kondisi yang lebih baik, sementara politik dalam pengertian negatif menghalalkan segala macam cara dengan menafikan nilai-nilai agama. Tentu bertujuan memperkaya diri, melanggengkan kekuasaan, dan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan lain-lain. Kita berharap di era multipartai sekarang ini, di mana kaum Muslimin bercita-cita melaksanakan syariah Islam dalam semua bidang kehidupan, akan lahir politisi-politisi yang juga dai, yang ketika melakukan kegiatan politik senantiasa dibingkai oleh nilai-nilai keislaman.

Hakikat kemenangan
Harus disadari bersama bahwa kemenangan yang sesungguhnya bukanlah semata-mata ditentukan oleh berapa banyak kekuasaan dan jabatan itu bisa diraih dan dikuasai serta berapa banyak anggota yang duduk di DPR maupun di DPRD. Akan tetapi, hakikat kemenangan adalah ketika kita berpihak pada nilai-nilai keislaman tersebut walaupun secara kasat mata belum banyak kekuasaan yang dicapai dan diraih. Tetapi, ketika para dai yang politisi ini mendapatkan jabatan dan kekuasaan tersebut dengan cara-cara yang baik dan benar, maka itulah sejatinya hakikat kemenangan.

Ketika kita menghadirkan nilai-nilai alternatif, seperti nilai-nilai khianat diganti dengan nilai amanah, nilai-nilai korup diganti dengan nilai-nilai yang bersih, dan nilai-nilai asal-asalan diganti dengan nilai profesionalitas yang tinggi, maka itulah hakikat kemenangan yang sebenarnya. Kemenangan adalah ketika kita berpihak pada nilai-nilai yang bersumberkan pada ajaran Islam.

Apalagi, dalam pandangan Allah SWT kemenangan bukanlah ditentukan oleh kuantitas, tetapi justru ditentukan oleh kualitas. Perhatikan firman-Nya dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 249: ''Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.''

Perang Badar yang terjadi antara kaum Muslimin dan kaum kuffar/ Quraisy yang sangat fenomenal, walaupun kaum Muslimin ketika itu sangat sedikit, sementara kaum kafir berjumlah sangat banyak, yakni tiga kali lipat dari jumlah kaum Muslimin, tetapi karena kaum Muslimin memiliki akidah yang kuat, keistiqomahan, kesatuan dan ukhuwwah yang kuat serta teruji, Allah memberikan kemenangan pada mereka.

Perhatikan firman-Nya dalam QS Ali Imran [3] ayat 123: ''Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah (sedikit jumlahnya dan perlengkapan perang yang tidak mencukupi). Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.''

Pelajaran dari Perang Uhud
Ketika kaum Muslimin melaksanakan peperangan berikutnya, yakni perang Uhud yang sangat terkenal. Pada kali pertama kaum Muslimin diberikan kemenangan oleh Allah karena semua tentara kaum Muslimin pada waktu itu memiliki kedisiplinan yang tinggi pada aturan dan ketentuan. Semuanya merasa ikhlas dan memiliki motivasi yang sama, yakni berjuang serta berjihad di jalan Allah SWT.

Akan tetapi, ketika terjadi perebutan ghanimah (rampasan perang) dan adanya tentara yang tidak disiplin pada aturan, yakni ketika pasukan pemanah ( ar-Rummah) diperintahkan untuk tetap pada posisinya dalam kondisi apa pun, tetapi karena mereka (pasukan pemanah) tergoda dengan banyaknya ghanimah yang diperebutkan oleh para tentara yang lain, mereka turun meninggalkan posisinya untuk ikut memperebutkan ghanimahtadi. Hal itu dimanfaatkan oleh musuh untuk menyerang balik pasukan kaum Muslimin.

Maka terjadilah musibah yang sangat besar yang dialami oleh kaum Muslimin. Banyak sahabat yang mati syahid. Meskipun kemudian, Allah SWT tetap menggerakkan hati kaum Muslimin untuk tetap istiqomah dalam menghadapi musuh-musuh agama.


Ikhtisar:
- Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan.
- Peristiwa pada zaman Rasulullah bisa menjadi contoh bagi para politisi di Tanah Air. (-)


Referensi/Catatan:
[1] Republika: Aktivitas Dakwah dalam Dunia Politik, http://republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/0/news_id/3081
[2] Fiqh Dakwah Jilid 1, bab Penyelewengan Dakwah Yang Harus Dihindari, Syaikh Mushthafa Masyhur, Penterjemah Abu Ridho dkk, Al-I'tishom Cahaya Umat, September 2005
[3] Eramuslim, Rubrik Ustadz Menjawab: Ngaji Lepas, Sesat Kah?, http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/8802081135-ngaji-lepas-sesat-kah.htm
[4] Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, bab Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, Pustaka Ibnu Katsir, Maret 2006
[5] Fiqih Prioritas, Syaikh Yusuf Qaradhawi, Gema Insani Pers, Juli 1996

baca selanjutnya »»

Pemesanan Vcd dan Dvd Film Sang Murobbi


Assalamualaikum!
Salam Tarbiyah! Teman-teman, Film "Sang Murabbi" akan segera beredar, pasca-Pemutaran Perdananya di Pekan Tarbiyah. Nah, agar antum tidak kehabisan vcd/dvd film inspiratif ini, kami membuka kesempatan untuk pemesanan secara inden. Film “Sang Murabbi” beredar dalam dua versi, yaitu versi VCD (Rp.30.000,-) dan DVD (Rp.60.000,-), belum termasuk ongkos kirim. Untuk informasi pembayaran, akan diinformasikan melalui HP dan email para pemesan inden. Berikut ini ketentuannya:
1. Tulis nama pemesan, alamat lengkap, alamat email, nomor HP
2. Tulis jumlah pemesanan
3. Untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan, kirimkan pemesanan antum ke email Majelis Budaya Rakyat: majelisbudayarakyat@yahoo.com
4. Nama-nama pemesan inden akan dipublikasikan secara berkala.
Ayo, pesan sekarang, jangan sampai kehabisan!

baca selanjutnya »»

Film "Sang Murobbi" Seberkas Cahaya pada Moment Kebangkitan Nasional

Sang Murabbi

Merangkum hati yang terserak
Menggenggam yang terlepas
Meretas gagasan menjadi kenyataan
Menapak jejak tak tergoyahkan
Menatap dengan kesejukan
Menegur dalam cinta
Bersemangat namun syahdu
Diiring doa sunyi
Kami rindu
Haus dahaga tak terperi
Pada sosoknya
Sang murabbi yang dicintai
Masihkah ada?...


Masih terbayang 3 tahun lalu tepatnya tanggal 14 Juni 2005 pukul 20.00, waktu itu Aa teh sedang mengisi halaqoh di Ngoro Jombang, tiba-tiba HP berdering, ternyata akh Karnoto mengabarkan bahwa ust.Rahmat Abdullah telah tiada, waktu itu Aa coba konfirmasi menghubungi dr.Agus Koeshartoro, namun jaringan sibuk terus, kepastian kabar yang mengejutkan itu di dapat setelah banyak ikhwah menelepon.


Sejenak termenung pada saat itu, terbayang kelebatan momen terakhir kebersamaan dengan sang maestro tarbiyah, 4 bulan sebelumnya ketika kami sama-sama di Aceh, waktu itu beliau sakit dan ane dipanggil untuk memeriksa kesehatannya, beliau nampak lelah dan lemas. setelah memberi obat kemudian saya coba memijat kakinya sambil mendengarkan tutur katanya yang lugas bercerita tentang dakwah dan musibah tsunami di Aceh....duuh syaikh betapa ku merindukanmu...

Alhamdullah tadi malam ane dapet donlot nasyid dan info film ini dari akh mashuri. kepada akh mashuri dari Izzis management ane ucapkan jazakallah atas donlot nasyid&chat nya. moga lancar persiapan pernikahannya yah:)

Tak terasa bulir-bulir air mata ini menetes menahan perasaan haru, bahagia, penuh ghiroh dan hamasah seperti tersihir oleh pesona sang maestro tarbiyah. melihat trailernya dan dengerin nih nasyid buat ane nangis depan laptop, sampe-sampe emaknya anak-anak ngetawain ane, masa ada ikhwah cengeng...he3x....duuh kangeeeen ma ust....allahumma inniy asaluka hubbaka, wa hubban man yuhibbuka, wa kulla "amalin yuqorribunaa ila hubbika

Alhamdulillah di tengah krisis kenaikan BBM, di tengah hiruk pikuknya pilkada yang kadang membuat kita lupa akan aktivitas sebagai murobbi ada sebongkah kemilau dari dunia per-film-an kita, insya Allah pada bulan Juli akan Launching Film "Sang Murobbi" rencananya bertepatan dengan Festival Tarbiyah di Jakarta. thx to abu Quro yang telah menginfokan satu minggu lalu.

Hatta baru menonton trailernya aja, ane sudah bisa terbawa oleh pesona Ust. Rahmat Abdullah (almarhum) yang sangat sederhana, ikhlas, bersahaja dan memiliki cita-cita luhur. Kisah nyata Pendiri Yayasan Islamic Center Iqro’ ini dikemas dengan apik oleh Zul Ardhia dalam sebuah film sarat dakwah yang berjudul Sang Murabbi : Mencari Spirit Yang Hilang.


Film yang disutradari oleh Zul Ardhia ini menampilkan bintang Irwan Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat, Ummi Fida (diperankan oleh Astri Ivo) dan didukung beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.

Film ini menceritakan kisah hidup Ustadz Rahmat Abdullah, beliau adalah putra Betawi yang lahir di Jakarta pada 3 Juli 1953. Almarhmum meninggal dunia tahun 2005 setelah terkena stroke ketika wudhu untuk mengerjakan sholat Magrib.

Sebelum menjadi anggota DPR, almarhum aktif sebagai guru di beberapa sekolah, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda (1970), SD Islam Tarbitul Aulad (1971-1973), Madrasah Tsanawiyah (Mts) Rumah Pendidikan Islam (1981), Aliyah Pendidikan (1982-1984), pengajar Ma’had Dirasah Islamiyah Iqro (1993-1997) dan pengajar pendidikan Duru TK Islam Terpadu Iqro (1999).

Almarhum juga mendirikan Yayasan Islamic Center Iqro pada 1992. Di tahun 2000, dalam sebuah acara Seminar Nasional bertajuk “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI epok, beliau dinobatkan disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah.

Cuplikan trailer movie :
“Kalau gak mau jadi pegawai pemda, lu mau kerja jadi apa sih”
“Mamat ngajar aja Bu”
“Gak Lepas tu omongan dari dulu. Sampai sekarang pengen jadi guru aja. Gak kepengen jadi orang berharte”
“Guru itu justru hartenya banyak . Ngasih ilmu aja kerjaannya. “
“Ya udah. Jadi guru juga gak apa sih, bagus. Asal satu, Jangan Korupsi.

---
“Abi minta maaf ya Nai. Akhir-akhir ini Abi sibuk banget. Jadi gak sempat ngobrol ama kamu dan ama anak-anak. “
“Ya, udah resiko Bi, jadi istri anggota DPR”
“Kau senang Abi jadi anggota DPR”
“Biasa aja. Tapi Ummi lebih senang jadi istri Abi yang dulu”
“Kenapa?”
“Tuh, rambut abi pada putih semua. Mikirin negara ya?”
“Ada yang lebih berat Nai, mikirin ummat”
---
“Tapi afwan ya bi, jangan marah. Saya masih bingung besok masak apa. Uang yang abi kasih udah abis. “ “mmhm…Kalau uang udah abis, kita minta aja lagi sama Allah”
“Kan Allah kasihnya sama abi, jadi saya mintanya sama abi”
“Kalau uang udah abis Nai, itu berarti rejeki udah mo datang lagi. Kayak sumur aja. Kalau sumurnya kering, berarti ujan udah mo datang. “
“Abi lagi gak punya uang ya ?”
---
yup... that is him :)
Beliau adalah seorang aktor intelektual peradaban wahyu yang pernah hadir memberi warna dan arti di bumi pertiwi...semoga film ini bisa melahirkan seribu Rahmat Abdullah...para jundul-junjul aqidah, abnaul harokah yang senantiasa mengepakan sayap dakwahnya ke seluruh penjuru bumi..

baca selanjutnya »»

Original Soundtrack Sang Murobbi The Movie



(Izzatul Islam)

Prolog:
Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazzamkan dirinya di jalan ini
Menjadikan dakwah sebagai laku utama
Dialah visi, dialah misi, dialah obsesi
Dialah yang menggelayuti di setiap desah nafas
Dialah yang akan mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhannya kelak


Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu


Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Ragakan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa limpahkan rahmat atasmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai tak lunturkan azzammu
Ragakan terluka tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti
Surga kekal abadi balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami, kau semai nilai Rabb suci
Tegak panji Ilahi bangkit generasi Robbani

DOWNLOAD MP3

Silakan langsung mendownloadnya side bar kanan blog Aa
Format MP3 (10,4 MB) dengan durasi putar 5 menit 41 detik.

baca selanjutnya »»

Mengenang Alm. K.H. Rahmat Abdullah “SYAIKH AT TARBIYAH” BAGI KAUM MUDA


http://pks-jakarta.or.id


Langit di Ibukota hari itu, Rabu (15/6), seperti tak bisa menahan kesedihannya. Hujan deras mengucur bak mengiringi pemakaman seorang tokoh nasional. Rahmat Abdullah sebenarnya “kiai dari kampung Betawi” biasa, tapi pengaruhnya sungguh luar biasa. Namanya tidak cukup populer di media massa, sebab ketokohannya bukan virtual. Ketokohan yang kongkrit terlihat dari puluhan ribu kaum muda yang mengantarkan kepergiannya.


Ustaz Rahmat, begitu ia kerap dipanggil murid-muridnya, pernah digelari “Syaikh at Tarbiyah” (Sang Guru) oleh sebuah majalah nasional di tahun
2001. Itulah momen peringatan “20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia” yang telah melahirkan komunitas unik: Partai Keadilan – dan akhirnya menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Selain tetap setia menjadi guru mengaji, Ustaz Rahmat kini menjadi anggota DPR dari Fraksi PK Sejahtera.

Makna Tarbiyah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunnahnya. Sebab kalau mau, para Sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus-menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Mala, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya : Wal takum minkum ummatuy yad'una ilal khair. Atau dalam firman-Nya : Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS : Ali imran : 110). Ummat yang baik tidak untuk disembunyikan tetapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan lagi ada kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlaq, kawasan taqwa, kawasan al haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezhaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader PKS (tulisan aslinya PK), dimanapun dia berada terus-menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da'wah ini, tumbuh dari seseorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.

Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna,Antum ruhun jadidah tasri fi jasadil ummah. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an. Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT., ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT., baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

Kehebatan Namrud bagi nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. Allah bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps denganya dalam menunaikan tugas pengabdian kepada Allah. Alih-alih dari menghanguskanya, justeru malah menjadi bardan wa salaman (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakni bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da'wah sesuai denga janji-Nya, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong Allah, Ia pasti menolongmu dan mengokohkan langkahmu).

Semoga para kader mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT di tengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri dalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat junud da'wah melingkar dalam satu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan. Disanalah kita mentarbiyah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesediahan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da'wah dan menegakkan islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Al Qur'an dan cahaya islam rahmatan lil alamin.

baca selanjutnya »»

Cahaya di Wajah Umat


Ust Ahmad Heryawan & Ust.Rahmat Abdullah
(dua wajah cahaya di wajah umat)


Oleh : KH. Rahmat Abdullah

Dalam satu kesatuan amal jamai ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jamai. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betuk terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menentramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jamai, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan dihadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.

Karenanya jangan ada kader yang mengandalakan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW : Man abtha a bihi amaluhu lam yusri bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya).


Makna Tarbiyah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunnahnya. Sebab kalau mau, para Sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus-menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Mala, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya : Wal takum minkum ummatuy yad'una ilal khair. Atau dalam firman-Nya : Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS : Ali imran : 110). Ummat yang baik tidak untuk disembunyikan tetapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan lagi ada kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlaq, kawasan taqwa, kawasan al haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezhaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader PKS (tulisan aslinya PK), dimanapun dia berada terus-menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da'wah ini, tumbuh dari seseorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.

Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna,Antum ruhun jadidah tasri fi jasadil ummah. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an. Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT., ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT., baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

Kehebatan Namrud bagi nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. Allah bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps denganya dalam menunaikan tugas pengabdian kepada Allah. Alih-alih dari menghanguskanya, justeru malah menjadi bardan wa salaman (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakni bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da'wah sesuai denga janji-Nya, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong Allah, Ia pasti menolongmu dan mengokohkan langkahmu).

Semoga para kader mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT di tengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri dalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat junud da'wah melingkar dalam satu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan. Disanalah kita mentarbiyah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesediahan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da'wah dan menegakkan islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Al Qur'an dan cahaya islam rahmatan lil alamin.

baca selanjutnya »»